Hai helloo~
You’re currently visiting blog seorang freak INTJ female, Fitri raehanah
Dulu sebenernya udah beberapa kali punya blog tapi dihapus lagi dihapus lagi karena malu sendiri ngeliat tulisannya tbh :v Lah terus ngapain sekarang bikin lagi? It will be a long paragraph kalau harus di detailkan secara rinci but yang pasti idk why as soon as I get older dan situasi lingkungan juga bikin blogging jadi sebuah kebutuhan.
No I didn’t talk about tryin'’ to get money from ad sense tho (bukan berarti gak mau :v ).
I personally termasuk tipikal orang yang less talking but had a lot of thinking. I spend my time mostly having a self conversation with my mind. Mikirin apaan? Entah random things yang tbtb muncul di kepala atau sudden situations or phenomenon sekalinya masuk ke kepala dan got me interested. I’ll be naturally crack it down to the little things dan relate to everything I know dan tryin’ to found a pattern dan completely tryin’ to get it fully understandable. Ribet ya? However this kind of thinking method will gain much advantage untuk beberapa kalangan profesi atau sort of situations.
Lha terus hubungannya sama blogging jadi kebutuhan apa?
Kalau kamu berada di situasi dan kondisi yang tepat yaa emang ga akan ngerasa struggling. Semisal punya temen yang juga seneng diskusi dan cocok satu sama lain (respect each other’s argument a.k.a no baper no emotion) , lagi dalam kondisi yang butuh thinking skill banget atau punya rutinitas yang bikin kamu tetep punya waktu buat bersosialisasi dengan orang lain. Kalau kamu di kondisi kayak gitu sih itu ga akan affects ke mental health.
Kok nyambung ke mental health?
Segimanapun introvertnya kamu tetep termasuk makhluk social juga yang butuh interaksi (Well phsycologist could explain this sentence better) .Walau terkadang saat ngumpul pun kita gak banyak ngomong atau bahkan gak nyambung sama topic, but still it’s better than not at all. Atau kalaupun kita ngerasa bukannya gamau interaksi sama sekali tapi cuman ingin interaksi social yang emang punya value lebih but still it’s fine just to have a little bit non sense rather than stay quiet all the time to hold things up in your mind. Karena ga setiap orang atau setiap keadaan bikin kita under comfort zone area
That’s what happen to me.
I’m a freelance designer. I basically work at home. Tobe specified I’ll call my bedroom is my lil’ world. The place where I spend my time the most. Aktivitas harian penuh seharian di rumah. Karena ngerasa gak cocok sama acara televisi, hiburan pun di dapet dari internet. Which means more time with laptop ( K-world / nonton documentaries / film) kalau nggak baca buku (kalau dulu sih sering ke perpustakaan) .
Quality time bareng keluarga pun ga begitu sering cuma sekedar waktu makan. Awalnya cuma karena I have a goal dan bener bener focused. Stress pun sebisa mungkin di press di anggap gak ada. Makin sini self confirmation dengan menekankan ke diri sendiri ‘nggak stress’ pun malah nambah stress. Pengalihan ke hiburan pun nggak berhasil malah bikin guilty pressure dan malah gabisa ngapa-ngapain sama sekali.
Like a blank space dan mulai dunia sebatas percakapan ga jelas dalam otak rasa haus akan apa yang pengen dicapai tapi belum bisa. The worst, I couldn’t say it to anyone even my family just to get chill. Karena yang ada dengan diri sendiri ketauan lagi struggling malah orang lain jd ketularan stress juga. Gak seperti orang lain yang kerja kantoran which means punya temen yg ketemu dan ngobrol tiap hari, gue nggak. Gue kerja sendiri, single, sering misfit dan gak talkative buat ngobrol sama orang. Gue jarang keluar rumah kecuali buat beli makanan atau check up kesehatan, Ga diizinin sama ortu buat aktivitas keluar Sukabumi juga.
Ortu pun gak suka kalau anaknya main. Kalau main pun sendirian cuman cari tempat makan atau ke karaoke box terus pulang dan sampai rumah ditanyain. Things just messed up because of overthinking dan semua terpendam.
Endingnya?
FYI, INTJ itu kalau under stress mereka cenderung self destruction (makan sembarangan, procrastinate, etc) dan melakukan hal-hal yang ESFP lakukan. Jadilah kesehatan yang terganggu. Stress bener bener lowerage our immune system cuy.
Saat sekarang keadaan udah berangsur-angsur membaik dan harus mulai mikirin cara yang lebih baik untuk manage stress sama rutinitas.
Sebelumnya sering nulis di app journal tapi gak banyak bantu. So I decided myself just to create a blog dan ceritain semua pemikiran-pemikiran yang ada di otak. Mostly random bisa dari human behaviour, health, experience, claim, sampai ke hal yg sensitive, keyakinan. Hal-hal yang sering gue renung dan fikirkan sendiri gue tulis disini se-netral mungkin. Yaa semoga ada positive impact juga kalau ada yang baca.
Kalau ada yg merasa konten di blog ini offensive maaf yaaa. I’m just being honest dan sebisa mungkin memberi argument secara objektif. Singkatnya semoga artikel-artikel yang ada disini seengaknya bikin kalian ngeliat dari perspektif lain entah kalian akan setuju atau nggak. Gak niat memancing debat juga. Kalau gak suka gak usah di baca. Kalau terlanjur dibaca cukup dilupakan. Kalau gabisa dilupakan ya, dibawa kalem aja hehe. Gue juga nggak addressing something, but just saying.
Btw maaf kalau bahasanya campuran dan my poor English skill. Kenapa gak pake full bahasa indo? Idk I have a lot of thoughts dan refleks langsung ditulis gitu aja sebagaimana yang terlintas di kepala ( kalau harus correcting dulu ke bhs indo semua nya malah bikin durasi ngetik tambah lama) dan kadang ada beberapa sentence yang lebih kena penekanan makna nya kalau pakai bahasa inggris hehe. Jangan di bully kalau ada yang salah, just correct me if I’m wrong. I’m still learning tho.
Ah iya satu lagi pronoun authornya pun kayaknya bakal ganti ganti sesuai mood. Kadang bisa aku- gue apapun itu -_- Dan plis kalau ada orang ngomong pake pronoun gue-lo itu bukan berarti orangnya so-so an songong abis ala-ala anak gaul hitz apapun itu julukannya (I'd like to explain this later). Itu cuman kata ganti dan yang bikin makna songong itu melekat entah dari mana datangnya. Bayangin orang yang dari lahir tinggal di lingkungan yang mayoritas pake pronoun gue-lo dan dia emang terbiasa dari kecil, terus tbtb dia dikatain songong padahal kenal aja, kagak songong nggak nya juga gatau, kan kasian juga -_- Juga yang manggilnya aku-kamu bukan berarti ada something special diantara mereka.
Just chill babe. I’m flexible tho bisa ganti-ganti pronoun tergantung lagi ngobrol sama siapa. Cuma karena blog ini jadi curahan my deepest thoughts yang ngehasilin banyak paragraph, jd bener bner sebisa mungkin harus cepat di keluarin unek-uneknya. Tapi bukan itu pointnya. Fokus aja sama isi artikelnya hehe
That’s it!
Well what a long prologue. Segini masih ada yang ditahan hehe. Ga kebayang real post nya kayak gimana wkwk.
I’ll see you later! :)
P.S. sorry design blog masih acak-acakan :v
P.S. sorry design blog masih acak-acakan :v