Showing posts with label Life Lesson. Show all posts
Showing posts with label Life Lesson. Show all posts

Saturday, 12 November 2016

The Untold Story : Kakek Pt. I

Here we go!

Akhir-akhir ini penyesalan semakin menjadi. Udah lama sih munculnya semenjak hari-hari les di zenius dan ngerasain tinggal jauh dari rumah. Aku menyadari ini terlalu terlambat tapi lebih baik dibanding tidak merasa menyesal dan sadar sama sekali. Penyesalan apa coba

Recently tau lah ya buat yang sering memerhatikan situasi yang lagi happening di Indonesia (nggak cuma di Indonesia sih) tapi skema keseluruhan. Bukan situasi SHinee yang ngadain konser di Indo atau bejibunnya online shop yang lagi ngadain giveaway. Tapi situasi setelah demo aksi damai 4 November kemarin. Kejadian-kejadian yang berkaitan dengan kasus penistaan agama kemarin setidaknya berhasil menyentil keimananku yang sempat menurun. Entah dengan kalian.

Tapi postingan ini bukan mau bercerita tentang itu. Singkatnya kejadian kemarin mengingatkan pada sosok kakek-ku dulu. I'm gonna tell you his untold story dari sudut pandangku.

Sedari kecil setiap seminggu sekali aku dan keluarga mudik ke rumah nenek di desa. Benar-benar rutin setiap minggu sekali. Sabtu sore berangkat Minggu sore pulang. Karena orang tua ku tidak ingin tidak ada kedekatan antara cucu dan kakek-nenek hanya karena jarang bertemu. Bukan hal yang membosankan kok! Kalau di rumah aku jarang main keluar rumah betul-betul anak rumahan dan temannya televisi, karena faktor lingkungan juga yang membuat ibuku memberi penekanan lebih baik diam di rumah. Lain halnya dengan di desa orangnya ramah-ramah. Kenal tidak kenal kalau ada orang yang lewat semua lempar senyum saling menyapa. Anak kecil nya pun dulu masih polos-polos. Tidak ada istilah geng atau diskriminasi anak kota-anak desa apalagi pilih-pilih teman. Kalau main pun kenalan dulu salaman satu-satu dan main dari lapangan hingga ke sawah. Karena rutinitas mudik itulah masa kecilku masih bisa terselamatkan.

Tapi..

Sebenarnya bukan hanya untuk mempererat hubungan kekeluargaan. Selepas maghrib kami sekeluarga harus mengaji. Bukan mengaji dalam artian membaca Al-Qur'an dan menganalisa tajwidnya lalu selesai, tapi meng-kaji ayat Al-Qur'an dan hadist-hadist visinya lebih ke memahami filosofi Islam. Saat itu aku masih kecil sehingga yang aku pelajari benar-benar dari dasar, belajar tata bahasa Arab. Menghafal tashrif perubahan bentuk kata saat pelaku nya laki-laki atau perempuan, memperbanyak kosakata. Masih sebatas itu. Sedangkan kakakku dan sepupu laki-lakiku sudah masuk ke menganalisa bentuk kata dalam hadist, menterjemahkan sesuai tata bahasa dan mengkaji isi hadist tersebut, lalu di korelasikan dengan hadist lainnya. Sedangkan orang tuaku paman nenek dan yang lainnya langsung mengkaji ayat Al-Qur'an. Yang mengajar siapa Kakekku!

Kakekku dahulu seorang guru. Aku tidak banyak kepo dengan latar belakang pasti study track nya, karena dibayang-bayangi oleh takut akan respon yang temperamental. Tapi sudah lama sejak terakhir menjadi guru di sekolah, aku tidak tahu pasti apa profesi tetap kakekku. Belakangan aku bertanya pada Ibu, ternyata kakekku berhenti menjadi guru di sekolah formal karena prinsip. Kakekku tidak ingin niat mengajar nya terbawa faktor lingkungan yang mayoritas memilih mengajar hanya karena uang saja bukan dedikasi untuk mendidik. Tapi kakekku tidak berhenti mengajar sama sekali. Banyak orang yang mencari-cari kakekku untuk minta diajari cara mengkaji Al-Qur'an dan hadist. Dari berbagai kalangan dan tidak mengenal usia. Kadang kakekku yang dipanggil ke rumah atau mereka yang datang ke rumah. Walaupun yang datang hanya seorang dan masih awam sekali pengetahuannya, kakekku dengan sabar mengajar. Semangat mengajarnya sangat....wah! Kalau sudah nyambung dan enggage dengan bahasan bisa straight to 4 am!

(tobe continued later.. )
PS Baterai laptop low